Saturday, May 8, 2010

Batik

Batik (Javanese pronunciation: [ˈbate?]; Indonesian pronunciation: [ˈbaːtik]; English: /ˈbætɪk/ or /bəˈtiːk/) is a cloth that traditionally uses a manual wax-resist dyeing technique. Due to modern advances in the textile industry, the term has been extended to include fabrics that incorporate traditional batik patterns even if they are not produced using the wax-resist dyeing techniques. Silk batik is especially popular.

Etymology: Although the word's origin is Javanese, its etymology may be either from the Javanese amba ('to write') and titik ('dot' or 'point'), or constructed from a hypothetical Proto-Austronesian root *beCík, meaning 'to tattoo' from the use of a needle in the process. The word is first recorded in English in the Encyclopædia Britannica of 1880, in which it is spelled battik. It is attested in the Indonesian Archipelago during the Dutch colonial period in various forms: mbatek, mbatik, batek and batik.
Javanese traditional batik, especially from Yogyakarta and Surakarta, has special meanings rooted to the Javanese conceptualization of the universe. Traditional colours include indigo, dark brown, and white. This is related to the fact that natural dyes are only available in indigo and brown. Certain patterns can only be worn by nobility; traditionally, wider stripes or wavy lines of greater width indicated higher rank. Consequently, during Javanese ceremonies, one could determine the royal lineage of a person by the cloth he or she was wearing.

Other regions of Indonesia have their own unique patterns that normally take themes from everyday lives, incorporating patterns such as flowers, nature, animals, folklore or people. The colours of pesisir batik, from the coastal cities of northern Java, is especially vibrant, and it absorbs influence from the Javanese, Arab, Chinese and Dutch culture. In the colonial times pesisir batik was a favorite of the Peranakan Chinese, Dutch and Eurasians.

History: In Java, Indonesia, batik predates written records. GP. Rouffaer argues that the technique might have been introduced during the 6th or 7th century from India or Sri Lanka. On the other hand, JLA. Brandes (a Dutch archeologist) and F.A. Sutjipto (an Indonesian archeologist) believe Indonesian batik is a native tradition, regions such as Toraja, Flores, Halmahera, and Papua, which were not directly influenced by Hinduism and have an old age tradition of batik making.

In Europe, the technique is described for the first time in the History of Java, published in London in 1817 by Sir Thomas Stamford Raffles who had been a British governor for the island. In 1873 the Dutch merchant Van Rijckevorsel gave the pieces he collected during a trip to Indonesia to the ethnographic museum in Rotterdam. Today Tropenmuseum housed the biggest collection of Indonesian batik in the Netherlands. The Dutch were active in developing batik in the colonial era, they introduced new innovations and prints. And it was indeed starting from the early 19th century that the art of batik really grew finer and reached its golden period. Exposed to the Exposition Universelle at Paris in 1900, the Indonesian batik impressed the public and the artisans. After the independence of Indonesia and the decline of the Dutch textile industry, the Dutch batik production was lost, the Gemeentemuseum, Den Haag contains artifacts from that era.

Due globalization and industrialization, which introduced automated techniques, new breeds of batik, known as batik cap (IPA: [tʃap]) and batik print emerged, and the traditional batik, which incorporates the hand written wax-resist dyeing technique is known now as batik tulis (lit: 'Written Batik'). At the same time Indonesian immigrants to the world brought Indonesian batik with them.UNESCO designated Indonesian batik as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity on October 2, 2009. As part of the acknowledgment, UNESCO insisted that Indonesia preserve their heritage.

The pride of Indonesians to wear batik till the present day has preserve this art of textile. The beauty of Batik is a tribute to the patience, creativity of the woman of Java, the main island of Indonesia. Credit should be also given to men who prepare the cloth and handle the dyeing and finishing process.

Batik is generally thought of as the most quintessentially Indonesian textile. Motifs of flowers, twinning plants, leaves buds, flowers, birds, butterflies, fish, insects and geometric forms are rich in symbolic association and variety; there are about three thousand recorded batik patterns.(*)

Saturday, February 23, 2008

Rumah Batik Noeza

Batik merupakan budaya nusantara sebagai simbol peradaban bangsa Indonesia.

Rumah Batik Noeza dengan bangga menyajikan batik Indonesia dalam sentuhan yang fashionable dan penuh artistik. Dengan motif-motif tradisional, klasik dan eksklusif. Pilihan bahan yang elegan dan bervariasi. Serta desain yang berkelas.
Temukan pilihan berbusana batik anda yang eksklusif dan berkelas hanya di Rumah Batik Noeza.

Informasi selanjutnya hubungi:
+62-8131-6141-000
+62-31-8330-1986

Wednesday, January 30, 2008

Catalog Product



Kami menampilkan produk terbaik dari batik Indonesia dengan berbagai motif, bahan dan deasin yang menarik.

Sunday, January 20, 2008

Makna Motif Batik

Penjabaran makna corak bathik Surakarta yang mempunyai kandungan pesan ajaran dari penciptanya : Bathik motif Semen Rama ini dibuat pada masa Pakoe Boewono IV, tahun 1787 hingga 1816, dan makna dari kandungan motif tersebut adalah untuk mengingatkan putranya yang telah di angkat sebagai putra mahkota. Bathik yang bercorak “semenan” dengan nama semen rama diilhami dari cerita Prabu Ramawijaya yang memberikan nasihat kepada Raden Gunawan Wibisana, adik Prabu Dasamuka dari nagari Alengka, saat akan menjadi Raja.
Nasihat itu kemudian dikenal dengan sebutan ”Hasta Brata” yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Isi ajaran tersebut adalah:
  • Indrabrata, bermakna tentang darma untuk memberi kemakmuran dan melindungi buminya, yang dilambangkan bentuk tumbuhan atau hayati.
  • Yamabrata, bermakna yang bersifat adil kepada sesama. Yang dilambangkan dalam bentuk motif berupa gunung atau awan yang menggambarkan kedudukan tinggi.
  • Suyabrata, bermakna keteguhan hati, tidak setengah hati dalam mengambil kebijakan seperti halnya matahari. Dilambangkan dalam bentuk motif gambar burung Garuda.
  • Sasibrata, bermakna memberikan penerangan kepada yang sedang dirundung duka. Di gambarkan dalam bentuk binatang – binatang.
  • Bayubrata, bermakna mengenai keluhuran atau kedudukan tinggi yg tidak menonjolkan kekuasaan. Yang di gambarkan dalam bentuk gambar Burung.
  • Danababrata/Kuwerabrata, bermakna memberikan penghargaan atau anugerah kepada rakyatnya, seperti halnya pulung atau ndaru. Yang di lambangkan dalam gambar Pusaka.
  • Barunabrata/Pasabrata, bermakna sebagai pemaaf. Dilambangkan dalam bentuk Naga, perahu atau yang dihubungkan dengan air.
  • Agnibrata, bermakna kesaktian untuk menumpas angkara dan melindungi yang lemah. Di lambangkan dalam bentuk api, lidah api dan cemukiran.



Motif Batik Wirasat

Batik Wirasat

Wirasat artinya perlambang yang dikaitkan dengan suatu permohonan. Bathik ini merupakan pengembangan dari motif Sida Mulya yang isinya terdiri dari bermacam–macam corak bathik. Diantaranya: bathik “Cakar”, “Truntum”, “Sida Luhur”, dan “Sida Mulya.

Makna motif ini, supaya dikabulkan segala permohonannya, mencapai kedudukan yg tinggi & mandiri, terpenuhi segala materi, juga permohonan petunjuk dari Tuhan saat mendapat kegelapan agar cepat diberi jalan yang terang. Bathik motif ini muncul bersamaan dengan bathik motif Sida Mukti pada masa PB. IV tahun 1800 an.

Pada awalnya motif ini dipakai oleh golongan tua saja, tetapi dalam perkembangannya motif ini didalam masyarakat sering dipakai orang tua penganten putra dalam acara mbesan. Motif ini berpola geometris seperti bathik sido luhur, sido mukti dan berkaitan dengan kepercayaan kejawen.

Dasar pengertian ini adalah konsep kekuasaan dipercaya muncul dari alam semesta, disamping dari kekuasaan manusia. Dalam corak bathik geometris ini melambangkan bahwa raja merupakan simbol kekuasaan dunia dan, sarana memberikan wahyu yang di wujudkan dengan pemberian pangkat kedudukan kepada kawulanya.
Raja juga pelindung lewat hukum yang diberlakukan. Hal ini digambarkan motif yang ketemu dalam empat titik temu bentuk belah ketupat, sebagai lambang raja yang di kelilingi oleh para pembantunya seperti yang disebut “Pancaniti” dimana;
  • Raja sebagai sebagai Hakim,
  • Patih sebagai Jaksa,
  • Pujangga sebagai Panitera serta
  • Senapati dan Ulama sebagai dasar perimbangan keputusan.
Atau bagi orang jawa keempat pusat tersebut merupakan sebagai tenaga alam semesta, yang juga :
  • Purwa berarti timur yang berhubungan dengan terbitnya matahari yang
    bermakna awal dari segalanya.
  • Daksina berarti selatan sebagai lambang puncak kehidupan segalanya.
  • Pracima berarti barat melambangkan terbenamnya matahari.
  • Untara berarti utara, melambangkan berakhirnya suatu kehidupan didunia.
Motif Wirasat sebelum muncul di Surakarta Bathik geometris telah berkembang lebih dulu dengan jenis “motif ceplok”.

Motif Batik Bokor Kencana

Batik Bokor Kencana

Bokor biasanya untuk tempat air bunga sebagai kelengkapan upacara. Kencana berarti emas. Motif ini dari ampilan raja. Apabila raja duduk disinggasana selalu disertai perlengkapan yang disebut ampilan upacara yang dibawa oleh putra ataupun cucu raja yang masih kecil. Putra atau
cucu raja disebut palara–lara yang berarti masih belajar tata krama. Makna dari bathik ini diharapkan akan mendatangkan kewibawaan dan keagungan sehingga disegani di dalam lingkungan masyarakat. Motif ini bisa dipakai oleh semua golongan pangkat dalam masyarakat, baik tua maupun muda dan motif ini muncul pada masa pemerintahan PB IX pada akhir abad XIX juga termasuk bathik gagrak anyar.

Motif Batik Ratu Ratih

Batik Ratu Ratih

Ratu–ratih dari kata ratu patih, ada pula yang menterjemahkan tunjung putih (ratu yang dijunjung atau diembani patih karena usianya masih muda). Makna ini diibaratkan “sesotya ing embanan” yang diwujudkan cincin emas yang bermata berlian. Didalam bathik ini dikaitkan dengan suatu kemuliaan, keagungan pribadi yang bisa menyesuaikan dengan alam lingkungan. Bathik ini bisa dipakai oleh siapa saja dan dari golongan apapun serta pas untuk acara perjamuan. Dilihat dari namanya bathik ini muncul pada masa pemerintahan Pakoe Boewono VI, dimana pada saat diangkat menjadi raja, beliau masih muda dan didampingi oleh patihnya pada tahun 1824 masehi.